“Hal pertama (yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu) adalah menghafal Al Qur'an, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. " (Imam An Nawawi, Al Majmu Juz I/66, Darul Fikri , Beirut 1966)

Nasihat Imam Nawawi ra. di atas menunjukkan betapa pentingnya menghafal Al Quran, bahkan ia adalah ilmu yang paling awal harus dimiliki para penuntut ilmu sebelum menuntut ilmu lainnya. Pantaslah jika para ulama salaf dan para ilmuwan Islam rata-rata seorang Hafizh selain mereka juga alim di bidang ilmu kauniyah maupun alim dalam bidang ilmu syari. Sebut saja misalnya Imam Asy Syafii, Imam Al Ghazali, Ibnu Sina, Muhammad Al  Fatih dan nama-nama lainnya yang tak akan cukup dituliskan saja karena para ilmuwan Islamlah yang meletakkan fondasi kemajuan peradaban dunia saat ini.

 

Hal ini semakin menegaskan kebenaran sabda Rasulullah SAW, Barangsiapa yang disibukkan oleh Al Quran daripada berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Alloh SWT di atas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Alloh SWT atas makhluk-Nya. (Hr. At Tirmidzi, Ad Dairami, dan Al Baihaqi).

Para penuntut ilmu yang di dalam dadanya tersimpan hafalan Al Quran  akan lebih berhati-hati dalam proses tholabul ilmi nya tersebut agar senantiasa ikhlash dan menjauh dari maksiat karena maksiat bisa menghijab ilmu Alloh SWT ke dalam dada.

Sebenarnya Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu,  dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut, 29 : 49)

Ketika kita menuntut ilmu dengan membaca suatu kitab (buku), baik kitab uluml syari maupun kauni maka tentu akan mempengaruhi cara pandang, sikap dan tingkah laku bahkan kepribadiannya. Apalagi jika membaca Al Quran, maka manusia akan mendapatkan pencerahan dan tuntunan kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai fitrah kemanusiannya, karena Al Quran adalah Kalam dari Sang Maha Pencipta manusia dan alam semesta.

yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Robb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.(QS. Fushshilat, 41 : 42)

Karena itu, biidznillah, seorang penghafal Al Quran akan diberi kemudahan oleh Alloh SWT dalam hal mencari ilmu, yaitu kemudahan mempelajari Al  Quran (QS. Al Qomar : 17) dan kemudahan dalam mendapatkan ilmu lainnya (QS. Al Mujadilah : 11).

Jika seseorang sudah memiliki hafalan Al Quran sebelum menuntut ilmu lainnya, maka Al Quran akan menjadi penyaring agar ilmu yang masuk adalah ilmu yang bermanfaat (karena ada juga ilmu yang tidak bermanfaat seperti ilmu santet, sihir, dan sejenisnya) dan di saat yang sama menjadi pembuka jalan dimudahkannya ilmu masuk ke dalam dada dan fikiran. Bahkan dalam pembahasan ilmu psikologi modern, menghafal Al Quran dapat meningkatkan Working Memori (memori kerja) otak kita.

Begitu pula ketika sejak bayi sudah diakrabkan dengan Al Quran melalui pendengaran akan mampu meningkatkan IQ bayi tersebut.

Sungguh tepat wasiat Nabi SAW, Didiklah anak kalian tiga perkara; mencintai kepada Nabinya, mencintai keluarga Nabi dan membaca Al Quran. (Kanzul Ummal : 16/456, hadits no.  45409).

Karena itu, semakin sering kita berinteraksi bersama Al Quran melalui tilawah, hifzh maupun murojaah, maka di saat yang sama sebetulnya otak kita sedang diasah dan hati kita sedang dibuka agar mudah menerima anugerah ilmu-ilmu Alloh SWT. Jadi, jangan segan untuk terus menghafal dan mengulangi serta menjaganya dalam lisan, dalam qalbu serta dalam akhlak dan amal perbuatan, karena seorang Penjaga Al Qur'an, dia juga menjadi penjaga pintu pertama dari luasnya lautan ilmu Alloh SWT yang tak bertepi.