Semilir udara sejuk semeribit menggantikan hawa dingin. Adalah sinar surya yang hadir menghangatkan muka bumi tanah airku. Cahayanya mengeja warna-warni pemandangan dunia. Telah nampak membentang langit biru cerah berhias awan tipis bagaikan kapas-kapas lembut nan berjajar. Pucuk-pucuk dedaunan berhiaskan butiran permata. Kicau burung seakan menjadi pertanda nyanyian kebahagiaan pagi ini.

 

Bel telah berbunyi pertanda waktu apel telah dimulai.Telah nampak beberapa anak putra dan putri telah mempersiapkan diri mengenakan selempang merah putih dan lembaran-lembaran teks. Puluhan anak berbaju putih bercelana merah nampak berjajar rapi di pinggir lapangan. Berbaris di sebelahnya belasan bapak bapak dan ibu ibu berseragam dinas, dibersamai beberapa orang berpakaian penuh ragam. Di lapangan upacara, kami para guru bersama siswa dan siswi, wali murid dan karyawan tengah menyambut peringatan agung 74 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Ungkapan syukur yang tiada tara atas karunia Tuhan. Satu jam berdirinya kami berkhidmad sungguh bukanlah apa-apa dibandingkan pengorbanan para pahlawan yang telah gugur demi mempersembahkan masa-masa bahagia ini. Kami para generasi yang ditinggalkan adalah pewaris perjuangan mereka yang berkorban jiwa raga. Sebuah kehormatan bagi kami mewarisi anugerah kemerdekaan. Maka pada hari ini, kami kibarkan sang merah putih sebagai sebagai penghormatan tertinggi bagi para leluhur kami.